Dunia sebagai panggung kehidupan…

Tahukah engkau wahai langit ?

Ku ingin bertemu dan berbincang dengannya. Seseorang yang memang sangat aku rindui.

Aku tak pernah tau akan jalan cerita yang telah diatur oleh sang Sutradara. Aku juga tak pernah tau apakah peranku di panggung ini sebagai antagonis ataukah protagonis? Aku banyak melakukan hal bagaikan malaikat, namun aku juga banyak melakukan hal bagai iblis. Yang bisa menilaiku ini adalah kalian, para penonton. Dan yang pasti, sang Sutradara.

Rasanya aku ingin sekali membaca skenario dari seorang script writer. Jika aku diberi kesempatan untuk meminjamnya sebentar, yang sangat ingin aku baca ialah ujung  jalan kisah ini. Aku ingin tau bagaimana kisah yang sebenarnya, supaya aku bisa fokus akting di panggung ini dengan menjalankan semua aturan sang Sutradara. Aku ingin mendapat keuntungan dari hasil kerja kerasku ber-akting, dan aku juga ingin meraih nilai plus dari sang Sutradara.

Wahai sang Sutradara, aturlah aku semaumu. Aku mohon, tegurlah aku jika aku bermain-main dalam perfilman ini. Tegurlah aku jika aku menyeleweng dari skenario yang telah Engkau atur. Aku ingin menjadi talent-Mu yang profesional.

Jika boleh aku bertanya, siapakah seorang yang selalu disampingku?

Siapakah dia yang pernah melukis cinta di Qalbu ini?

Apakah dia peran yang sesungguhnya?

Ataukah dia hanya peran sesaat agar skenario ini berisi seperti sayur asem?

Wahai langit, taukah engkau?

Aku pernah mendengar cerita dari kaka ku yang telah berkeluarga. Suatu hari, kaka perempuanku memasak makanan kesukaan suaminya, sayur asem. Sayur asem itu…….. pastinya seperti gado-gado. Isinya banyak. Ada kacang panjang, nangka muda, jagung muda, daun melinjo, kacang tanah, daun salam, asam muda, belimbing wuluh, dilengkapi rempah-rempah layaknya bawang merah, bawang putih, kemiri, cabai merah, garam, dll.

Nah, ketika makan malam tiba…

Kaka ipar ku itu bertanya pada istrinya : “Ummi, masak sayur asem ya?”

sang istri : “Iya abi..”

sang suami : “Mi, mengapa sayur asem ini isinya banyak sekali yah? Coba deh kalo Ummi masaknya pake jagung muda aja, pake daun melinjo sama kacang tanah aja. Ga usah pake nangka muda, belimbing wuluh, daun salam, apalah ini.. ga enak mi. Coba yang enak-enak aja yang dimasukkan, seperti jagung, kacang tanah, sayur melinjo. Heheh…”

sang istri menjawab : “Abi sayang, sayur asem itu memang fitrah nya begitu. Isinya memang harus banyak. Kacang panjang, kacang tanah, jagung, daun melinjo, daun salam, asam muda, belimbing wuluh, nangka muda, dll.. Karena menurut resep yang Ummi baca di tabloid, segala isi yang ada di sayur asem itu saling melengkapi. Saling membutuhkan. Jika salah satunya dihilangkan, maka rasanya akan beda, tidak seperti sayur asem yang asli. Apalagi jika dihilangkan yang tidak enaknya seperti belimbing wuluh, asam muda, daun salam, nangka muda, nanti pasti rasanya ga enak”

sang suami : “Mengapa sampai tidak enak?”

sang istri : “Namanya juga sayur asem, kalo asam muda dan daun salam nya tidak dimasukkan, apa jadinya sayur asem itu? apakah sayur asem itu masih berasa asem? kan asam muda dan daun salam nya tidak dimasukkan? Hayyooo…

Sang suami pun tersenyum. Mengangguk, mengerti maksudnya.

sang suami : “Lalu bagaimana dengan nangka mudanya, Ummi?”

sang istri : “Di dalam nangka muda itu terdapat getah, nah getah itulah yang membuat rasa asem yang kuat pada sayur asem. Sayur asem itu saling melengkapi bi.. Jika sayur asem itu dimasak dengan isi yang lengkap, maka rasanya semakin enak. Ada zat-zat tertentu di setiap isi pada sayur asem”

sang suami : “Oh begitu ya mi..”

***

Dari situlah aku memetik sebuah kesimpulan bahwa Kehidupan di Dunia itu layaknya seperti Sayur Asem.

Wahai langit, tau kah engkau mengapa ?

Yah! Isi sayur asem yang tidak lengkap saja rasanya tidak enak, begitu pula dengan Hidup. Hidup ini tidak seru dan tidak mempunyai kisah yang berkesan jika didalamnya hanya terdapat orang-orang yang baik saja.

Bayangkan saja, jika di seluruh dunia ini tidak ada orang jahat.. apa jadinya ?

Dunia pasti tidak akan memiliki Polisi, Hakim, Jaksa, Lalu lintas, Satpol PP, Ustadz, Ulama, dsb…

***

Kembali ke panggung kehidupan…

Aku ingin tau teman antagonis ku, juga protagonis. Tapi kurasa waktuku masih panjang…

Apalagi jika harus bertemu dengan orang-orang yang amat aku rindui. Scene ke-berapa aku bertemu dengannya wahai Sutradara ?

***

Mungkin aku harus bersabar dengan talent panggung ini. Ada yang sangat menyayangi, ada yang sangat mencintai, ada yang sangat dekat, ada yang baik hati, penyabar, bahkan banyak juga yang sangat membenci, menyinggung, merusak, menghina, menganiaya, berpaling, fisikisme, hedonisme, materialisme, dsb…

Kemarin aku baru saja shoot dengan seorang peran baru yang belum pernah aku temui sebelumnya di panggung ini. Namanya (*****). Terlihat dari kaca mata fisik ku, dia terlihat seorang yang protagonis.

Awalnya, jalan kisah kita di script adalah berkenalan. Lambat laun menjadi akrab.

***

Aku mengerti bahasa tubuh seseorang. Aku tau gerak-gerik seseorang dalam bicara dan bertindak. Aku tau apakah seseorang itu berkata benar ataukah sebaliknya. Aku tau apakah seseorang itu tulus ataukah tidak. Aku tau. Aku mengerti. Aku belajar Psikologi.

Memang, aku bukanlah Dewa. Tapi aku punya paham intuitif yang kuat. Dan aku punya feeling yang dalam. Aku bisa merasakannya.

Ketika shoot dengannya kemarin, aku mulai memainkan imajinasiku dalam psikologi.

Aku merasa intuitif ku down. Aku berprasangka buruk dengannya. Aku merasa dimainkan olehnya. Aku merasa ditipu. Dan aku tau, dia lah orang yang akan menyakitiku di scene itu.

Ternyata benar. Intuitif ku tepat. Menurutku, dia seorang yang hanya memandang suatu keindahan.

Aku mengetahuinya. Aku paham. Dan aku mengerti bahwa dia adalah peran sesaat yang hanya numpang lewat di kehidupanku, dan yang pasti dia adalah seorang yang protagonis sesaat, selanjutnya merasa tak peduli.

Apakah benar ini jalan kisah ku dengan orang yang menyebalkan itu wahai Sutradara ?

***

Tau kah engkau wahai langit ?

Rasanya aku ingin sekali ganti peran. Tapi, aku sadar diri.

***

(Ini sebuah lagu yang menemaniku malam ini sambil menulis curahan hati di blog…)

Bintang malam, sampaikan padanya. Aku ingin mengukir sinarmu dihatinya.

Embun pagi katakan padanya, biarku dekap erat hati ini untuk nya.

Tau kah engkau wahai langit?

Ku ingin bertemu membelai wajahnya. ku pasang hiasan di angkasa yg terindah, hanya untuk dirinya.

Lagu rindu ingin ku ciptakan hanya antuk dirimu walau hanya nada sederhana jika ku ungkap semua rasa dan kerinduan.

(Kerispatih)

***

Aku suka mendengarnya.

***

Tau kah engkau wahai langit apa yang aku tuliskan ini ?

Bahasa. Yah! Bahasa qiyasan. Aku suka dengan perumpamaan. Seperti tulisanku ini.

Yang baca tulisan ini, cobalah untuk mencerna baik-baik kata demi kata, kalimat demi kalimat-nya. Semua penuh dengan qiyasan yang menyangkut tentang kehidupan.

Ekaa, Thank’s🙂

4 comments

  1. SM · Maret 9, 2012

    tulisan mu sudah mulai membaik ka. jauh lebih baik dr tulisan mu sebelumnya (scene short film mu). jauh lebih indah, jauh lebih enak dibaca. teruslah menuis! ;D
    eeh mau koment deh.. itu yg lagu krispatih yg liriknya
    “Embun pagi katakan padanya, biarku dekap erat hati ini untuk nya.” ituu salaah kaa..
    harusnyaa..
    “embun pagi katakan padanya, biar ku dekap erat waktu dingin membelenggu nya”
    itu lagu favorit ku soalnya heheh jadi apal jelas makna tiap2 katanya😀

  2. Syahiidah Muthmainnah · Maret 9, 2012

    tulisan mu sudah mulai membaik ka. jauh lebih baik dr tulisan mu sebelumnya (scene short film mu). jauh lebih indah, jauh lebih enak dibaca. teruslah menuis! ;D
    eeh mau koment deh.. itu yg lagu krispatih yg liriknya
    “Embun pagi katakan padanya, biarku dekap erat hati ini untuk nya.” ituu salaah kaa..
    harusnyaa..
    “embun pagi katakan padanya, biar ku dekap erat waktu dingin membelenggu nya”
    itu lagu favorit ku soalnya heheh jadi apal jelas makna tiap2 katanya

    • ekaaristokratick · Maret 10, 2012

      🙂 iya syah.. inih semenjak mengenal film, jd pengen nulis terus..
      o ya ? iya iyaa itu lirik sebenernya..🙂
      trimakasih cintaa …

  3. azri firdaus · Maret 11, 2012

    bolehkah ku mnjadi sesorang yg melngkapi kehidupan mu?orng yg akan menemani mu di saat duka atau pun snng.bkan sebagai orng yg berperan sebagai antogonis di cerita kehdpan mu.tp sbgai orng yg benar2 tulus mencintai dan menyayangi mu.dan akan ku buktikan itu semua.
    love you eka dinda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s