Makalah : Psikologi Sufi

Psikologi Sufi Untuk Transformasi Hati, Diri, dan Jiwa

Nama : Eka Yulianti

 1.  Pendahuluan

Dewasa ini, perbincangan mengenai Psikologi Sufi tidak pernah surut ditelan masa walaupun bagi sebagian orang yang hidup di zaman modern, hal tersebut tidak terlalu berarti dan cenderung memuakkan. Karena gaya hidup yang ada di zaman tersebut adalah gaya hidup yang serba rasional, yaitu menurut pikiran dan pertimbangan yang logis dan bersifat duniawi, kebendaan, bukan bersifat keagamaan atau kerohanian yang disebut dengan sekuler seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi yang sangat. Padahal kenyataannya orang yang hidup di zaman modern yang serba rasional dan sekuler yang ditopang oleh perkembangan teknologi dan informasi canggih tidak dapat melepaskan belenggu dirinya dari kebutuhan terhadap dimensi spiritualitas yang kita sebut sebagai Psikologi Sufi. Maka dari itulah saya menulis makalah yang berjudul Psikologi Sufi untuk Transformasi Hati, Diri, dan Jiwa, yang bertujuan untuk menerapkan dimensi spiritualitas ditengah zaman modern yang telah membuat kita lupa akan spiritual.

2.  Pembahasan

A. Pengerttian

Apa itu Psikologi? Yah..Psikologi adalah ilmu yang berusaha untuk mempelajari, mengkaji, meneliti tentang peristiwa mental, dan perilaku manusia serta hubungannya dengan lingkungan sekitarnya.

Lalu bagaimana dengan Sufi? Sufi itu adalah orang yang mengamalkan tasawuf. Dalam bahasa arab, sufi memiliki beberapa makna. Menurut Abu Sa’id al-Kharraz, sufi adalah orang yang hatinya disucikan oleh Allah, sehingga hatinya dipenuhi cahaya. Ada lagi menurut Jafar Al-Khuldi, ia bilang bahwa “Sufi adalah penghambaan kepada Allah dan keluar dari dimensi kemanusiaan-bilogis (basyariyah), dan memandang al-Haqq secara kulliyah (universal)”. Sedangkan menurut Basyar ibn al-Harist menyatakan: “ Sufi adalah orang yang hatinya suci karena Allah dan selalu berada di shaf paling depan dalam berupaya keras untuk dekat dan sampai kepada Allah SWT .

Dari pengertian kedua disiplin ilmu tersebut, psikologi sufi berusaha untuk mengkaji, mempelajari dan meneliti perilaku pengalaman spiritual para sufi ketika berinteraksi dengan Rabb-nya, yaitu Allah SWT. serta bagaimana pengaruhnya terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan disekitarnya.

Psikologi sufi, merupakan bagian dari perkembangan disiplin pengetahuan tasawuf dalam Islam. Pengetahuan tersebut adalah salah satu dari empat pilar disiplin pengetahuan dalam Islam yang harus dikuasai oleh umatnya. Empat pilar pengetahuan tersebut adalah fikih, kalam, filsafat, dan tasawuf. Sesuai dengan disiplinnya, tasawuf memiliki tingkatan teratas karena dalam pengertiannya yang universal tasawuf mencakup dimensi mistik dan mengakui kebenaran mendasar dari seluruh agama. Agama bagaikan sebatang pohon yang berakar pada amalan-amalan dan memiliki dahan-dahan mistisisme serta berbuah kebenaran. Oleh karena itu, orang yang telah berhasil mencapai tingkatan ini selalu mencari persamaan daripada perbedaan.

 

Lalu bagaimana jika Psikologi Sufi itu ditranformasikan ke hati, diri, dan jiwa setiap insan? Pertama saya akan menjelaskan tentang hati. Hati dijelaskan sebagai sesuatu yang identik dengan spiritualitas. Ketulusan, niat baik, belas kasih, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan spiritualitas bersumber dari hati. Maka, kita cenderung mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki ketulusan, niat baik, belas kasih, dan lain sebagainya tidak memiliki hati. Dalam psikologi sufi, hati memiliki kecerdasan dan kearifan terdalam. Kecerdasan yang dimiliki oleh hati lebih mendalam dan mendasar daripada kecerdasan yang kecerdasan yang cenderung abstrak, yang dimiliki oleh akal kita. Hati juga menyimpan roh ilahiah. Karenanya, bagi para sufi hati adalah kuil Tuhan dan rumah cinta. Semakin kita menggunakan hati kita untuk belajar mencintai orang lain, kita semakin mampu mencintai Tuhan.

Bagaimana dengan diri seorang insan? Diri atau nafs dalam psikologi sufi adalah sebuah aspek psikis pertama yang menjadi musuh kita. Tapi, nafs bisa menjadi teman yang sangat berharga bagi kita dan tak terhingga nilainya. Secara sederhana nafs memiliki beberapa tingkatan. Tingkat terendah adalah nafs tirani. Ia merupakan nafs yang dapat menjauhkan kita dari spritualitas. Pada sisi yang lain, tingkat tertinggi adalah nafs yang suci. Pada tingkat ini, kepribadian mencapai tingkat yang optimal bagaikan mencapai tingkat kesempurnaan yang dapat memantulkan cahaya Ilahi.

Terakhir, jiwa. Dalam psikologi sufi, jiwa diidentikkan dengan sesuatu yang selalu berevolusi. Jiwa memiliki tujuh aspek: mineral, nabati, hewani, pribadi, insani, rahasia, dan maharahasia. Setiap aspek memiliki penjelasan masing-masing dan ditulis dalam bab khusus. Namun secara umum, ketujuh aspek jiwa tersebut dapat dicapai secara bertahap dan tasawuf bertujuan agar ketujuh tingkat kesadaran ini bekerja secara seimbang dan harmonis. Tasawuf memberikan pendekatan yang sangat holistik, sehingga jiwa terhindar dari bahaya model linear dan hirarkis yang digunakan untuk pembenaran dalam melakukan penindasan terhadap kaum perempuan dan minoritas. Ketujuh aspek jiwa kita mampu mengintegrasikan fisik, psikis, spiritual. Aspek kehidupan fisik kita ditopang oleh kearifan mineral, nabati, dan hewani sejak dahulu kala. Fungsi psikis kita berakar dari jiwa pribadi. Sedangkan, jiwa insani, jiwa rahasia, dan jiwa maharahasia berada dalam hati spiritual. Jiwa insani adalah tempat kasih sayang dan kreativitas. Jiwa rahasia adalah tempat berzikir kepada Tuhan dan jiwa maharahasia adalah percikan ilahiah yang tak terbatas.

Hati, Diri, dan Jiwa: Psikologi Sufi untuk Transformasi merupakan pendekatan holistik yang mengintegrasikan fisik, psikis, dan spirit serta membimbing jiwa untuk tidak terjebak ke  dalam bahaya model yang linear dan hierarkis, yang cenderung mengesampingkan spiritualitas. Tasawuf adalah disiplin pengetahuan (spiritual) yang dapat dimiliki oleh budaya, siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.

B.   Sejaran dan Faktor

Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa Arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia.

Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata “Sufi”. Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.

Yang lain menyarankan bahwa etimologi dari Sufi berasal dari “Ashab al-Suffa” (“Sahabat Beranda”) atau “Ahl al-Suffa” (“Orang orang beranda”), yang mana dalah sekelompok muslim pada waktu Nabi Muhammad yang menghabiskan waktu mereka di beranda masjid Nabi, mendedikasikan waktunya untuk berdoa.

Banyak pendapat yang pro dan kontra mengenai asal-usul ajaran tasawuf, apakah ia berasal dari luar atau dari dalam agama Islam sendiri. Berbagai sumber mengatakan bahwa ilmu tasauf sangat lah membingungkan.

Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakan paham yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah[1]. Dan orang-orang Islam baru di daerah Irak dan Iran (sekitar abad 8 Masehi) yang sebelumnya merupakan orang-orang yang memeluk agama non Islam atau menganut paham-paham tertentu. Meski sudah masuk Islam, hidupnya tetap memelihara kesahajaan dan menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan keduniaan. Hal ini didorong oleh kesungguhannya untuk mengamalkan ajarannya, yaitu dalam hidupannya sangat berendah-rendah diri dan berhina-hina diri terhadap Tuhan. Mereka selalu mengenakan pakaian yang pada waktu itu termasuk pakaian yang sangat sederhana, yaitu pakaian dari kulit domba yang masih berbulu, sampai akhirnya dikenal sebagai semacam tanda bagi penganut-penganut paham tersebut. Itulah sebabnya maka pahamnya kemudian disebut paham sufi, sufisme atau paham tasawuf. Sementara itu, orang yang penganut paham tersebut disebut orang sufi.

Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa asal-usul ajaran tasawuf berasal dari zaman Nabi Muhammad SAW. Berasal dari kata “beranda” (suffa), dan pelakunya disebut dengan ahl al-suffa, seperti telah disebutkan diatas. Mereka dianggap sebagai penanam benih paham tasawuf yang berasal dari pengetahuan Nabi Muhammad[2]

Pendapat lain menyebutkan tasawuf muncul ketika pertikaian antar umat Islam di zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, khususnya karena faktor politik. Pertikaian antar umat Islam karena karena faktor politik dan perebutan kekuasaan ini terus berlangsung dimasa khalifah-khalifah sesudah Utsman dan Ali. Munculah masyarakat yang bereaksi terhadap hal ini. Mereka menganggap bahwa politik dan kekuasaan merupakan wilayah yang kotor dan busuk. Mereka melakukan gerakan ‘uzlah , yaitu menarik diri dari hingar-bingar masalah duniawi yang seringkali menipu dan menjerumuskan. Lalu munculah gerakan tasawuf yang di pelopori oleh Hasan Al-Bashiri pada abad kedua Hijriyah. Kemudian diikuti oleh figur-figaur lain seperti Shafyan al-Tsauri dan Rabi’ah al-‘Adawiyah[3]

Beberapa definisi sufisme:

  • Yaitu paham mistik dalam agama Islam sebagaimana Taoisme di Tiongkok dan ajaran Yoga di India (Mr. G.B.J Hiltermann & Prof.Dr.P.Van De Woestijne).
  • Yaitu aliran kerohanian mistik (mystiek geestroming) dalam agama Islam (Dr. C.B. Van Haeringen).

Pendapat yang mengatakan bahwa sufisme/tasawuf berasal dari dalam agama Islam:

  • Asal-usul ajaran sufi didasari pada sunnah Nabi Muhammad. Keharusan untuk bersungguh-sungguh terhadap Allah merupakan aturan di antara para muslim awal, yang bagi mereka adalah sebuah keadaan yang tak bernama, kemudian menjadi disiplin tersendiri ketika mayoritas masyarakat mulai menyimpang dan berubah dari keadaan ini. (Nuh Ha Mim Keller, 1995)[4]
  • Seorang penulis dari mazhab Maliki, Abd al-Wahhab al-Sha’rani mendefinisikan Sufisme sebagai berikut: “Jalan para sufi dibangun dari Qur’an dan Sunnah, dan didasarkan pada cara hidup berdasarkan moral para nabi dan yang tersucikan. Tidak bisa disalahkan, kecuali apabila melanggar pernyataan eksplisit dari Qur’an, sunnah, atau ijma.” [11. Sha’rani, al-Tabaqat al-Kubra (Kairo, 1374), I, 4.][5]

Pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari luar agama Islam:

  • Sufisme berasal dari bahasa Arab suf, yaitu pakaian yang terbuat dari wol pada kaum asketen (yaitu orang yang hidupnya menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan). Dunia Kristen, neo platonisme, pengaruh Persi dan India ikut menentukan paham tasawuf sebagai arah asketis-mistis dalam ajaran Islam (Mr. G.B.J Hiltermann & Prof.Dr.P.Van De Woestijne).
  • (Sufisme)yaitu ajaran mistik (mystieke leer) yang dianut sekelompok kepercayaan di Timur terutama Persi dan India yang mengajarkan bahwa semua yang muncul di dunia ini sebagai sesuatu yang khayali (als idealish verschijnt), manusia sebagai pancaran (uitvloeisel) dari Tuhan selalu berusaha untuk kembali bersatu dengan DIA (J. Kramers Jz).
  • Al Quran pada permulaan Islam diajarkan cukup menuntun kehidupan batin umat Muslimin yang saat itu terbatas jumlahnya. Lambat laun dengan bertambah luasnya daerah dan pemeluknya, Islam kemudian menampung perasaan-perasaan dari luar, dari pemeluk-pemeluk yang sebelum masuk Islam sudah menganut agama-agama yang kuat ajaran kebatinannya dan telah mengikuti ajaran mistik, keyakinan mencari-cari hubungan perseorangan dengan ketuhanan dalam berbagai bentuk dan corak yang ditentukan agama masing-masing. Perasaan mistik yang ada pada kaum Muslim abad 2 Hijriyah (yang sebagian diantaranya sebelumnya menganut agama Non Islam, semisal orang India yang sebelumnya beragama Hindu, orang-orang Persi yang sebelumnya beragama Zoroaster atau orang Siria yang sebelumnya beragama Masehi) tidak ketahuan masuk dalam kehidupan kaum Muslim karena pada mereka masih terdapat kehidupan batin yang ingin mencari kedekatan diri pribadi dengan Tuhan. Keyakinan dan gerak-gerik (akibat paham mistik) ini makin hari makin luas mendapat sambutan dari kaum Muslim, meski mendapat tantangan dari ahli-ahli dan guru agamanya. Maka dengan jalan demikian berbagai aliran mistik ini yang pada permulaannya ada yang berasal dari aliran mistik Masehi, Platonisme, Persi dan India perlahan-lahan memengaruhi aliran-aliran di dalam Islam (Prof.Dr.H.Abubakar Aceh).
  • Paham tasawuf terbentuk dari dua unsur, yaitu (1) Perasaan kebatinan yang ada pada sementara orang Islam sejak awal perkembangan Agama Islam,(2) Adat atau kebiasaan orang Islam baru yang bersumber dari agama-agama non Islam dan berbagai paham mistik. Oleh karenanya, paham tasawuf itu bukan ajaran Islam walaupun tidak sedikit mengandung unsur-unsur ajaran Islam. Dengan kata lain, dalam agama Islam tidak ada paham Tasawuf walaupun tidak sedikit jumlah orang Islam yang menganutnya (MH. Amien Jaiz, 1980)[6]
  • Tasawuf dan sufi berasal dari kota Bashrah di negeri Irak. Dan karena suka mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuuf), maka mereka disebut dengan “Sufi”. Soal hakikat Tasawuf, hal itu bukanlah ajaran Rasulullah SAW dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu. Menurut Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: “Tatkala kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka sangat berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad SAW, dan juga dalam sejarah para shahabatnya yang mulia, serta makhluk-makhluk pilihan Allah Ta’ala di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha” – At Tashawwuf Al Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28.(Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc)[7]

Dengan munculnya sufi seperti ini, manusia bisa mengaplkasikannya pada kehidupan sehari-hari. Bagaimana mentransformasikannya ke hati, diri, dan jiwa.

3.  Penutup

Setiap individu memerlukan paham psikologi sufi yang ditransformasikan ke hati, diri, dan jiwa supaya memperoleh keadaan yang seimbang antara agama dan dunia.

begitu banyak dampak yang ditimbulkan jika kita tidak memperhatikan keseimbangan agama dan kehidupan dunia yang digunakan sebagai tempat kehidupan. Dampak negatif yang muncul berupa penyakit yang merugikan pada manusia seperti penyakit hati. Penyakit urusan dunia yang mengesampingkan agama. Belum lagi jika seseorang itu sama sekali tidak sedikitpun memahami tentang spiritualitas yang dianutnya.

Dampak positifnya terhadap diri manusia yaitu memperoleh sumber energi baik dari energi spiritualitas, energi yang mensupport kita di lingkungan tempat tinggal untuk
kebutuhan hidup.

 


[1] Hakekat tasawuf oleh Qardhawi

[2]  Asal-usul Ajaran Sufisme

[3]  Solihin, M. Anwar, M Rosyid. Akhlak Tasawuf (Bandung: Nuansa 2005) hlm. 177

[4]  Place of Tasawwuf in Traditional Islam

[5]  Islamic Spirituality, the forgotten revolution

[6] Masalah Mistik Tasawuf & Kebatinan, MH. Amien Jaiz, PT Alma’arif – 1980 Bandung

[7] Hakekat Tasawuf dan Sufi

 

Bagaimana menurut anda tentang Makalah ini ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s